Minggu, 14 Juni 2009

AL-HABIB ALWI BIN AL-FAQIH

AL-HABIB ALWI BIN AL-FAQIH
Al-Goyur (Sang Pencemburu) W : 669 H

۞ Nama Dan Tempat Kelahiran

Beliau bernama "Alwi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali", bergelar "Al-Goyyur" karena kecemburuan terhadap namanya sendiri "Alwi", pewaris kewalian turun-menurun ini dilahirkan di kota Tarim, tumbuh di dalam asuhan ayahnya dan mendapat bimbingan khusus darinya. Ayahnyapun bangga padanya dan berkata bahwa pangkat kewalian akan turun kepadanya.


۞ Karamah-Karamah

Diceritakan bahwa ayahnya memerintahkan Al-Habib Alwi untuk mengambil rumput untuk kambing ternak ayahnya, ketika kembali, beliau tidak membawa rumput sedikitpun, beliau berkata kepada ayahnya :”Aku mendengarnya sedang bertasbih, sampai aku malu untuk memotongnya”. Suatu hari beliau melewati anak-anak sedang bermain, beliau berkata :”Dua orang beruntung, sedang dua yang lain celaka”, setelah beberapa tahun jadilah kedua anak yang beruntung orang saleh dan ulama fiqih, keduanya adalah :”Ibrahim bin Abi Sholb dan Ba’amar. Sedang dua orang yang celaka hidup dengan harta yang haram. Beliau juga menghadiri hadhrah ayahnya, sang ayah bertanya :”Siapa saja wali-wali yang telah hadir dari penjuru yang jauh?”, terkadang beliau menjawabnya, terkadang beliau berkata :”Aku sedang sibuk dengan mengingat Tuhan”.


۞ Guru serta Murid-Murid

Diantara gurunya adalah Abdullah bin Muhammad Ba’abbad dan Abdurrahman (saudaranya), ketika ayahnya pulang ke rahmatullah datang kepada beliau Syeikh Abdullah bin Muhammad Ba’abbad, Abdurrahman (saudaranya), Syeikh Abdullah bin Ibrahim Baqusyair dan Syeikh Sa’id bin Umar Balhap, mereka mengisyaratkan bahwa rahasia ayahnya telah berpindah kepada anaknya Al-Habib Alwi. Ibunya "Sayyidah Zainab" berkata :”Dalam diri Al-Habib Alwi ada sosok pengganti yang telah hilang dan dialah pengganti yang pantas”.

Adapun diantara murid yang tumbuh dan terdidik bersama beliau adalah saudara-saudaranya : Syeikh Abdullah Ba'alawi, Syeikh Abdurrahman, Syeikh Ahmad dan Syeikh Ali, Syeikh Ali bin Salim dan Ahmad bin Muhammad Bamukhtar, begitu pula dua anaknya Ali dan Abdullah yang memberikan keturunan bagi Al-Habib Alwi.

۞ Ditanah Haram

Sesudah ayahnya wafat berangkatlah beliau ke Makkah dan menetap di sana, suatu hari beliau melihat Rasulullah SAW bersama Abu Bakar dan Umar r.a, dalam pertemuan itu beliau bertanya : Dimana kedudukanku di sisimu wahai Rasulullah ? Nabipun menjawab :”Tempatmu di mataku”, lantas Rasulullah SAW bertanya : Di mana tempatku di sisimu ? beliaupun menjawab :”Di atas kepalaku”, Abu Bakar berkata :”Apa yang terjadi denganmu, Rasulullah SAW menempatkanmu di matanya, sementara kamu menempatkannya di kepalamu”, lantas beliau bertanya :”Apakah kewajibanku untuk mensyukurinya? Abu Bakar menjawab :”Bersedekahlah seratus dinar terhadap faqir miskin”, setelah berdiam sejenak beliaupun mengungkapkan bahwa beliau saat ini tidak mempunyai Dinar sebanyak itu, tiba-tiba muncul seseorang dan mendekati beliau sambil menyerahkan seratus Dinar untuk disedekahkan. Selang beberapa waktu Setelah menetap di Makkah dan Madinah beliaupun kembali ke tanah kelahiran.

۞ Hikayat

Dalam satu perdebatan Al-Habib Ahmad bertengkar dan membantah Al-Habib Alwi, sampai Al-Habib Ahmad berkata :”Aku akan keluar dari kota ini, biarlah perkara itu milikmu sendiri”, dipertengahan jalan, Al-Habib Ahmad gelisah terasa dunia sempit bahkan jalanpun buntu, tidak ada jalan keluar kecuali kembali dan menemui saudaranya Alwi untuk meminta maaf, gembiralah Al-Habib Alwi dan ia turutkan kehendak Al-Habib Ahmad sesudah permintaan maafnya.

Suatu hari saudaranya Al-Habib Ahmad mendengar kemasyhuran Syeikh Abdullah Ba'ubad, beliaupun iri dan ingin mencapai seperti apa yang telah dicapai oleh Syeikh Abdullah, Al-Habib Alwi berkata kepadanya :”Jika kamu taat kepadaku dan aku masukkan kamu ke ruang khalwat selama 40 hari kamu akan mencapai lebih dari pangkat yang dimiliki oleh Syeikh Abdullah”.

Diceritakan pula bahwa ada seorang laki-laki di Tarim, yang terkenal dengan kemampuan supranaturalnya namun dibalik semua itu ia bersekutu dengan jin yang membantunya untuk mengelabui masyarakat, suatu hari dia berkata :”Siapa saja yang tidak mentaatiku akan mendapatkan musibah”, banyak pemuka masyarakat yang berkunjung kepadanya, hingga dalam satu pertemuan, Isa bin Amar dari keturunan Haram bertanya-tanya : " Kenapa Al-Habib Alwi tidak pernah mengunjungi laki-laki ini ", tiba-tiba ada seorang pemuda memukul Isa dan berkata : " engkau tidak pantas berkomentar seperti itu terhadap sayyid Alwi ", setelah kejadian itu Isa pun pergi untuk meminta maaf kepada Al-Habib Alwi dan karena dihantui rasa takut terhadap dukun itu ia pun memutuskan untuk selalu ikut bersama beliau. Al-Habib Alwipun menasehatinya : " Tidak usah resah, pergilah kemana saja yang kamu mau ", tapi Isa terus merasa takut. Suatu hari ketika Isa berada di dalam masjid bersama Al-Habib Alwi, beliau menggerakkan pintu dan pergi ke pintu yang lain untuk menggerakkannya lagi, seketika terdengar suara burung, beliau berkata : "Dukun tersebut mempunyai dua jin yang taat kepadanya dan aku telah membunuh keduanya", tatkala itu tenanglah hati Isa, manakala dukun tersebut mengetahui bahwa dua jin tersebut telah tewas, lalu pergilah ia dari Tarim.

Seorang laki-laki mempunyai penyakit waswas dan ia tidak mengakui kewalian Al-Habib Alwi, musibah lainpun datang kepadanya sampai ia kehausan tanpa henti-hentinya, kemudian ia datang untuk meminta maaf dan doa untuk menghilangkan dahaga dan waswasnya, Al-Habib Alwi pun mendo'akannya sampai ia sembuh.

۝ Berpulang Ke Rahmatullah

Beliau wafat tepat pada hari Jum'at 2 Dzulqo'dah 669 H, kepulangan beliau kehadhirat ilahi penuh dengan rasa duka, sebagaimana ayahnya beliaupun dimakamkan di Zanbal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar